Belenggu Religius

  Tumbuh dan dilahirkan di keluarga yang dibilang religius hidupku hanya berputar di antara berdoa dan menaati peraturan agama yang telah diberikan oleh orang tua ku sejak kecil. Dan aku tidak boleh mengetahui apa arti dan nilai ibadah yang telah kita lakukan selama ini, mereka terus menyuapiku dengan ajaran agama. Akan berbahaya jika aku berani menentang aturan yang ada di agama ku dihadapan mereka.

   "ayah, kita ngapain sih berdoa?"

   "ya supaya kita dapet yang terbaik dari tuhan"

   "kita kok sering beroda ke tuhan sih yah, kan kalau kita usaha sendiri ujung-ujung nya bakal dapet yang kita yang kita mau"

   "ya dengan bantuan tuhan nanti bakal lebih dimudahkan lagi usaha kita"

   Aku masih tidak puas dengan jawaban ayah ku, lagipula aku masih punya banyak pertanyaan untuknya. Kenapa semua manusia menyembah tuhan, dan mengapa hanya kepada tuhan saja. Tuhan itu selalu membantu orang-orang kesusahan kan? mengapa masih banyak sekali orang-orang miskin diluar sana, mengapa banyak sekali kejahatan yang terjadi, mengapa masih banyak kekerasan yang tetap terlaksana, kenapa banyak sekali peperangan yang tetap menumbangkan banyak sekali badan, kelaparan dimana mana. Tetapi pertanyaan itu terus kusimpan dan terus dibungkamkan oleh orang tua ku yang hanya menyuruhku untuk hanya mematuhi perintah agama dan omongan orang tua ku. 

Menjadi anak tunggal membuatku kesepian, tidak memiliki teman untuk bermain dan orang tua ku sibuk di dunia mereka masing-masing, cara ku untuk bermain dan mengisi waktu luangku dengan bermain dengan teman sekampungku.

   "Dio ayok main!"

   "jam segini main man? sekarang kan waktunya ibadah"

   "ahh gak seru kamu yo, yaudah aku bakal main sama temen-temen yang lain aja"

  Gak seru..... ibadah merupakan kewajibankan, mengapa orang yang ingin menjalankan perintah agamanya saja dianggap tidak seru, nanti kalau tuhan marah gimana? bagaimana jika tuhan kecewa? apakah dia tidak takut masuk neraka atas perbuatannya sendiri?

  Peristiwa sangat membekas bagi diri ku,  itu membuka mataku terhadap apa yang telah ku lakukan seumur hidupku ini, setelah didoktrin hanya beribadah saja tanpa mengetahui arti sebenarnya dibalik kegiatan itu dan ditakut takuti akan masuk kedalam lubang neraka, melihat seseorang tidak melakukannya tanpa memikirkan sebuah konsukuensi yang akan membuatnya sengsara nanti. Tetapi aku tidak menanyakan mengenai perbuatannya, tetapi aku bertanya kepada diri sendiri mengapa aku selalu menjalankan apa yang diminta oleh orang tua ku? mengapa tidak semua orang melakukan peraturan yang ada meskipun mereka mengetahui konsukuensi nya?

  Waktu terus berlalu tanpa aku bertanya kepada orang tua ku lagi mengenai arti ibadah di dunia ini, karna rumah ku ini kuanggap sebagai penjara spiritual. Tentu aku juga belajar tentang agama dari sekolah ku, dan juga aku bisa membuka pikiran dan mata ku dikarenakan banyak sekali teman ku yang dari agama yang berbeda. Tapi di kesempatan yang baik itu terdapat jawaban yang kucari di kehidupan ku yang telah kujalani hingga masa remaja ini. Tentu saja di masa remaja ini banyak sekali kenakalan yang telah ku cicipi di masa remaja ku ini.

   "eh sudah waktunya ibadah, kalian gak siap-siap?"

   "ngapain sih keburu buru banget dah, santai dulu kali telat telat aja kita ibadahnya"

   "kita kan harus tepat waktu supaya dapet pahala yang maksimal,, sama kalau nanti kelupaan gimana?"

   "yaampun yo, lu kok kaku banget dah, lagian kalo kelupaan kan yaudah kita dapet dosa, ujung ujungnya juga dijanjiin masuk surga, ya.... walalau kita harus masuk neraka dulu sih sebentar"

  Surga?Neraka? apakah hanya itu tujuan kita beribadah? Hanya sekedar ingin merasakan tetesan nikmat dari surga dan menghindari sakitnya siksa dari neraka? Jika surga dan neraka tak pernah ada apakah kita masih masih bersujud kepadanya? Menyebut namanya? Apakah ini semua yang aku cari selama ini? Hal yang sangat sepele yang anak sekolah dasar saja mengetahui itu?

   "nak ayo ibadah dulu sini"

   "ndak dulu deh pa, nanti aja aku nyusul"

  Ekspresi itu, ya. Ekspresi yang sama persis dengan yang dikepala ku. Ekspresi kaget yang penuh amarah yang dikeluarkannya itu sangat persis sekali dengan yang terjadi ketika aku masih kecil, ketika aku menentang omongannya.

   "kamu sekarang sudah besar ya nak, sudah dewasa, ayo sekarang ibadah" *nada lembut

   "sudah ku bilang pa, aku akan nyusul nan-"

  Sebelum semua kalimat yang ingin ku katakan keluar dari mulutku, tidak ku sadari sebuah vas bunga yang ada di kamarku telah melayang di pinggir kepala ku dan membuat kegaduhan serumah. 

   "kenapa pa, kok ada suara barang pecah?"

   "lihat anak mu ma, dia sudah merasa dewasa, bisa menaklukkan dunia ini, merasa ia telah menguasai kehidupan sekarang"

   "pa udah pa, mungkin kita nya aja yang salah dengar, ayo nak ibadah dulu sama papa dan mama"

   "papa ndak salah denger ma, iya aku itu bakal ngelakuin ibadah nya rada nelat. Apa salahnya memang? kita kan intinya iabadah cuma buat masuk surga dan neghindari neraka kan? gimana kalian yakin kalau ada surga dan neraka? itu kan jawaban yang papa sembunyiin dari aku selama ini"

   "sepertinya papa salah menyekolahkan mu di sekolah negeri itu, lihatkan ma, keputusan ku yang ingin memasukkan dia ke asrama agama ternama itu."

  Mama... aku tak pernah melihatnya kehabisan kata-kata seperti sekarang. Yang selalu membelaku, sekarang tidak bisa mengeluarkan kata untuk melindungi ku dari papa. Aku tidak menyalahkannya, kata yang keluar dari mulutku itu seperti nya melewati batas toleransi mereka. Setelah kejadian iitu, orang tua ku langsung mengeluarkanku dari sekolah ku dan memasukkan ku asrama agama yang terkenal akan kedisipilanannya dan pemuka agama nya yang terkenal sekali.

  .........

  Tak terasa sudah caturwulan ku beradaptasi di asrama ini, jujur tempat ini seperti tidak ada beda nya dengan rumahku, seperti penjara spiritual tanpa ruang berdialog sedikit pun, tapi aku akan mengeluarkan seluruh gumpalan pikiran yang kupunya selama ini, waktu waktu luangku hanya digunakan untuk membaca buku dan membuat rencana untuk mengeluarkan semua pertanyaan yang kupunya ke pemuka agama di asrama ini, di waktu yang tepat, di tempat yang tepat.

  Tibalah waktu ujian semester asrama, dalam ruang kelas hening teman-temanku dengan ekspresi bingung melihat kertas ujian dihadapannya. Berbeda dengan diriku yang bingung bagaimana pembuat soal ini menciptakan permasalahan yang bahkan anak se-level sekolah dasar pun dapat menyelesaikannya tanpa harus mengeluarkan setetes keringat. Dengan mudah aku menjawab setiap permasalahan yang diberikan agar aku bisa mempunayi waktu senggang untuk mempersiapkan pertanyaan kepada pemuka agama, jika kesempatan itu muncul. Sesaat setelahnya aku langsung mengumpulkan kertas ujianku dan langsung keluar ruangan ujian, meninggalkan ekspresi teman-temanku yang heran bagaimana aku mengerjakan semua permasalahan itu dengan sangat cepat.

   "eh kamu dapet nilai berapa?" tanya seorang siswi kepada temannya

   "kamu soal no 47 jawab apa?" tanya seorang siswi seperti dalam keadaan kacau balau

   "yaampun aku kok dapet pengawas yang killer sih !?"  keluh kesah seorang siswa yang seperti ditimpa mala petaka

   "kumohon ya tuhan semoga aku dapet nilai tinggi" doa satu kelas penuh dengan siswa seperti jika mereka mendapatkan nilai jelek hidup mereka sudah berakhir

   "yaampun gimana kalau orang tua ku marah???" seroang anak mama yang hampir saja mengeluarkan tangis air mata nya hanya karna sebuah nilai?

  Nilai? sekarang itukah yang mereka kejar? hal materialistik yang akan membantu kita hanya di dunia ini? itukah yang mereka cari di asrama agama ternama ini? sunggu ironi... tapi aku tidak menyalahkan mereka, itulah sifat asli manusia sering terperangkap dalam rayuan dunia yang fana ini, terlahir dengan sifat lupa dimana mereka berlomba lomba untuk membangun menara setinggi cakrawala tetapi akan lupa dengan tanah yang dipijaknya akan menelan badan mereka. Aku ingin tertawa saat teringat omongan temanku yang dia hanya beribadah hanya untuk surga atau neraka, dunia terbalik apa yang aku hidupi ini sebenarnya.

  Keesokan harinya terdapat suara keramaian di auditorium menggema dilangit-langit bangunan yang berkapasitas 1200 orang ini membuat suara pembicaraan yang biasa saja tidak dapat terdengar, kerumunan murid murid yang penuh antusias menuggu sebuah pengumuman yang kata semua orang dapat mengubah nasib mu di asrama ini. 

   "sekarang, pengharagaan nilai tertinggi di asrama kita dengan total nilain 98,5. selamat untuk..."

  Perasaan kaget mungkin itu tidak perlu ku rasakan, gemuruh tepuk tangan mengiringi ku berjalan menuju panggung aula, tatapan semua orang yang campur aduk, iri bahagia dan lain sebagainya. Mengapa semua orang merasakan emosi yang mungkin hanya mereka ingat hanya sepanjang satu menit saja, tapi seterusnya mereka pasti akan lupa dan mengeluarkan ekspresi mereka lagi. 

  Dengan sifat ku yang seperti ini tidak kaget jika aku hampir tidak memiliki teman, teman ku hanya sebatas pada saat kerja kelompok dan teman kamar. Dianggap sebagai salah satu anak aneh yang pintar jadi aku sering dimanfaat kan "teman" ku membantu mereka dengan pelajarannya. Setelah pengumuman itu, banyak sekali aktifitas orang orang di asrama ini, ada yang melakukan perayaan, jalan-jalan bersama teman-temannya, dan hal hal lain yang menurut mereka menyenangkan dan bisa menyembuhkan luka yang diakibatkan kesedihan itu. Pekerjaan ku hanya membaca buku di bawah gazebo asrama yang bisa dibilang besar itu, hampir mirip dengan yang ada di kerjaan untuk melakukan pesta teh, tempat yang sempurna untuk bersembunyi ditengah tengah huru hara yang ada.

 

  "buku yang menarik bukan?" tanya seorang pemuka agama yang paling ternama kepada ku, aku hanya mengangguk tanpa menatapnya.

   "buku yang menceritakan rahasia besar yang disembunyikan dunia, hal yang sangat kontrofersi tapi tidak buruk juga, benar bukan. Kita manusia telah tinggal di bumi beribu ribu tahun lamanya tapi masih ada rahasia yang ditutupi kepada kita." Lanjut pemuka agama itu

  Dia terdiam sejenak, serambi menengok ke taman asrama yang asri itu.

   "tapi bukan rahasia dunia yang ingin kau tau bukan?" tanya nya kepadaku secara mendadak

  Pertanyaan tanpa peringatan itu membuatku membeku sesaat di tempat, datang begit saja tanpa sepengetahuanku. Pikiran ku hanya terisi oleh pikiran untuk bertanya kepada nya, memanfaatkan kesempatan yang langkah untuk terjadi dua kali.

   "itu bukanlah hal yang ingin saya tahu, tetapi untuk mengetahui itu adalah tujuan hidup saya" aku menatap matanya dengan penuh antusia.

  Mendengar itu pemuka agama hanya bisa tertawa terbahak bahak mendengar luapan perasaan yang ku ungkapkan kepadanya tidak lama tadi.

   "lucu sekali melihat anak seumurmu sangat serius menjalani sebuah hal yang dinamakan kehidupan ini. Banyak sekali murid yang ku ajar dan baru kali ini aku menemukan murid yang sepertimu, dan itu bukanlah hal yang buruk jika kau tau" ucapnya dengan mengusap air mata yang diakibatkan oleh tawa yang tiada hentinya itu.

   "bagaimana anda tahu hal apa yang ingin saya tahu, saya tidak pernah mengutarakan ini kepada siapapun, secara tiba tiba anda-

   "hanya sebuah kebetulan saja aku bisa mengetahuinya, anggap saja aku membaca raut mukamu itu hahaha. Dan juga kau ingin menanyakan sebuah pertanyaan bukan? tanyakan saja sekarang" tiba tiba ia memotong pembicaraanku, tetapii tidak ada hal yang dipermasalakan sekarang. Aku hanya perlu menanyakan pertanyaan yang inginku ketahui selam-

   "apa arti kita beribadah kepada tuhan? pertanyaan yang bagus"

  waktu terasa berhenti lama sekali bagiku, lagi dan lagi bagaimana dia langsung tahu apa yang ingin kukatakan dan apa yang kupikirkan. Seperti dia ada didalam pikiranku saja.

   "ya" jawabku dengan lantang serentak aku meletakkan buku yang ku baca.

   "pertanyaan yang mudah untuk dijawab tetapi juga susah dijawab juga, sebenarnya banyak sekali arti dari pernyataanmu itu, menyatakan rasa syukur, mencari ridha tuhan, dan lain sebagainya. Tetapi pada akhirnya itu hanya mempunyai satu arti"

  aku mendekatkan diri kepada nya tanpa sadar diakarenakan rasa ingin tahu ku yang ingin meledak rasanya.

   "dan arti itu akan kau dapatkan sendiri, entah itu lambat atau cepat"

   "sebentar? maaf apa maksud anda dengan itu? jadi apa sebenarnya artinya??" tanya ku dengan nada yang sedikti tinggi dikarenakan dia sudah membuatku penasaran dan membunuh rasa penasaran itu hanya dengan jawaban menggangtung dan bertele tele itu

   "hahahaha, sekali lagi kau membuatku tertawa, sunggu kau adalah anak paling pintar dan bodoh secara bersamaan yang pernah kutemui di 40 tahun aku mengajar di asrama ini. Dengarlah, hidup itu bukan hanya sekedar kita terus menerus beribadah kepada tuhan dan memikirkan kehidupan di akhirat kelak, tidak juga terus menerus mencari kebahagiaan dunia, tetapi kita harus mencari titik masis diantara kedua hal tersebut, kita harus menyeimbangkan dua kehidupan itu secara bersamaan. Sulit? memang, tetapi itulah artinya, sebuah ujian ketaatan yang diberikan dan perlu kita hadapi sepanjang masa hidup kita, cara kita menemukannya? dengan hidup menjalani ujian itu tanpa keluhan apapun, pada akkhirnya kita akan menemukan arti itu sendiri atau dibantu dengan orang lain. Lucunya aku pun tidak tahu arti hal tersebut sampai sekarang hahaha, dan akhirnya aku dipertemukan seorang anak yang sama seperti di mana muda ku, keras kepala, penuh dengan rasa ingin tahu dan rasa ingin melawan."

  terhanyut dalam ungkapannya, membuatku kembali kemasa lalu dimana semua pertanyaan yang kupikirkan sejak kecil yang sering dibantah ayahku, telah dijawab dengan mudah dan lancar oleh orang yang baru saja aku temui, aku tau dia adalah seorang pemuka agama, tetapi pemuka agama di temoatku saja mengucilkanku dikarenakan dia menganggapku sebagai anak nakal.

  pemuka agama itu tersenyum melihatku

   "tidak ada orang yang mati dengan rasa penasaran, carilah artimu" ucap pemuka agama itu seraya mengusap kepalaku

   "terima kasih"  hanya hal yang bisa kuucapkan kepadanya

   "hahaha untuk apa berterima kasih kepadaku berterima kasih kepada diri mu sendiri lah, uhuk uhuk , yatuhan acara berdialog secara tiba-tiba ini membuatku haus, ayo kita minum teh dan melanjutkan dialog kita nanti" ucap pemuka agama dengan senyum lebar di mukanya

  tanpa sadari mataku yang awalnya tertutup dibuka olehnya dengan kalimat yang panjang tapi membekas dihati hingga dimana aku tidak akan melupakannya sepanjang hidupku.

   "maaf apakah aku boleh bertanya lagi kepadamu?" jawabku kepadanya dengan membalas senyumannya itu

   "hahaha tentu saja mari kita dengarkan pertanyaan itu sambil kita berjalan" 

  tawa pendeta yang tiada henti seperti pertanyaan ku yang terus muncul dikepalaku, aku selal dianggap lucu olehnya karena aku seperti dia pada saat muda katanya, haha.... siapa tahu aku juga akan menjadi sepertinya, membantu orang untuk mencari seubuah "arti".

Komentar